Senin, 16 September 2019


KELASNYA KAUM GEMBEL
katanya




Anggap aja kita adalah bantal yang lagi ditonjok sama petinju dan kata-kata yang keluar dari mulutnya itu tinjuan buat kita yang nantinya akan membuat kita memantul lebih jauh bukan malah terjatuh.

🌺🌺🌺


       Gadis berseragam putih abu dengan hijab panjang terulur hingga menutupi dadanya tengah berdiri berdampingan dengan seorang gadis ber-name tag Melodi yang merupakan sahabatnya. Di samping Melodi terlihat gadis imut yang tengah menoleh kanan kiri seperti mencari seseorang, dia Ainun. Ketiganya kini tengah berdiri di depan ruangan yang biasa mereka sebut dengan ruang kaca karena dinding ruangan tersebut memang terbuat dari kaca. Biasanya ruangan ini digunakan untuk menerima tamu dari sekolah lain atau bisa juga untuk rapat, sebenarnya mereka juga kurang tahu sih fungsi ruangan ini untuk apa.
      By the way mereka berdiri di depan ruang kaca bukan untuk membicarakan fungsi ruangan itu, tetapi mereka sedang kebingungan. Ya, dari sebelum bel masuk berbunyi hingga kini mungkin sudah memasuki 5 menit jam pelajaran mereka masih mondar-mandir di depan ruang kaca.

"Gimana ini? Masa kita mau di sini terus, ini udah masuk jam pelajaran Pak Sofyan, kalau kita kena marah gimana?" Omel Melodi tak tenang.

"Santai aja kali, Mel. Kita juga di sini karena di suruh Bu Dewi buat ambil modul" Jawab Ainun tenang.

"Eh itu Pak Sofyan. Kita izin dulu aja, biar ngga kena marah" Ucap gadis berhijab panjang itu sambil menunjuk ke arah Pak Sofyan yang berjalan mendekati mereka.

"Assalamu'alaikum, Pak" Salam ketiganya kompak.

"Wa'alaikumsalam. Ada apa ini ramai-ramai di sini?"

"Gini, Pak, kita mau izin sebentar karena di suruh sama Bu Dewi buat ambil modul di mobil Pak Tino, tapi Pak Tinonya ada di ruang kaca. Di dalam juga sepertinya guru-guru sedang ngobrolin sesuatu yang serius  jadi kita ngga enak buat masuk, gimana ya pak?" Jelas Melodi.

"Oh begitu, ya sudah nggapapa" Ucapnya ramah.

"Kalau kita masuk ke dalam, sopan ngga ya, Pak?" Melodi mencicit pelan.

      Pak Sofyan menoleh ke ruang kaca lalu berjalan melewatinya. Dia pergi.

"Lah? Aku kira dia bakal bantuin kita buat manggil Pak Tino, kok malah pergi? Padahal aku udah ngode loh" Omel Melodi lagi.

"Yaudahlah yang penting udah ngasih izin kan?" Gumam Ainun.

"Terus kita gimana?"

¤¤¤¤¤¤¤

"Untung ada Bu Arum yang bantuin kalau engga mau sampai kapan kita berdiri di depan ruang kaca, padahalkan Pak Tino ada di sebelah timur ruang kaca yang berarti ada di halaman depan." Melodi terkekeh pelan ketika mengingat betapa bodohnya mereka tadi.

"Lagian kenapa kita bisa error gini ya, kenapa kita ngira Pak Tino ada di ruang kaca, padahal Bu Dewi bilangnya ada di sebelah timur ruang kaca." Lanjut Melodi geleng-geleng kepala sendiri.

"Bisa barengan gitu ya budeknya" Ucap Ainun sambil membenarkan tumpukan modul di tangannya.

       Gadis berhijab panjang itu hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya. Ingin ikut nimbrung tapi sudah terlalu lelah dengan tumpukan modul di tangan. Pegal juga bolak-balik membawa banyak modul.

"Bu, ini modulnya sudah di bawa ke sini semua. Terus kita harus apa lagi?" Tanyanya.

"Ini nanti setiap mapel kalian ambil sesuai jumlah siswa kelas kalian terus kalian bawa ke kelas. Gini aja, kalian hubungi anak laki-laki biar mereka yang bawa ke kelas."

     Gadis itu merogoh sakunya, mengambil benda tipis persegi panjang yang tak pernah lepas dari tangan setiap orang di zaman ini.
     Belum sempat ia menghubungi temannya, beberapa pesan dari hampir seluruh teman kelasnya yang masuk membuat kedua bola mata gadis itu membulat sempurna. Dari sekian banyak kontak dengan pesan yang sama.

'Lo dimana?'

  Namun ada satu kontak yang mengirim spam chat membuat gadis itu tergerak untuk membukanya.

Deya : Lo dimana?

Deya : Buru sini, dicariin Pak Sofyan. Marah-marah dia.

Deya : P

Deya : P

Deya : Lo ngapain sih duduk santai di depan ruang kaca? Udah tahu ini jam pelajarannya Pak Sofyan.

Deya : Hil,  kalau lo baca ini please buruan ke kelas! Ini perintah!

    Gadis itu melongo membaca dua pesan terakhir. Tanpa pikir panjang segera pamit pada Bu Dewi dan mendorong pelan kedua temannya yang bingung juga kaget, tak lupa ia membawa tumpukan modul.

¤¤¤¤¤¤

"Assalamu'alaikum" Gadis berhijab panjang itu berjalan memasuki kelas lalu menyalami Pak Sofyan yang tersenyum manis ke arah mereka.

Tunggu, Pak Sofyan senyum? Lah tadi Deya bilang? Ah, ini aneh, sungguh.

"Modulnya taruh di meja aja ngga cape apa tangan kalian?" Ucapnya yang tak terdengar ada nada kemarahan di sana.

"Pak, kita mau minta maaf karena telat masuk"

     Pak Sofyan hanya tersenyum, yang gadis itu lihat senyumnya...tulus. Iya, tulus bukan pura-pura. Terus tadi maksud Deya itu apa?

"Anak laki-laki di suruh sama Bu Dewi buat ambil sisa modul di sana" Celetukan Melodi membuyarkan lamunan gadis itu.

"Ayo yang cowok, sana ambil modulnya!" perintah Pak Sofyan.

"Oh iya Bapak ada acara, jadi mohon maaf Bapak tinggal sebentar. Jangan rame! Ketua kelas tolong jaga kondisi kelas"

"Siap, Pak"

"Loh kalian ngechat gue?" Celetuk Ainun setelah Pak Sofyan pergi.

      Deya segera maju menghampiri mereka bertiga.

"Kalian kemana aja sih? Tahu ngga tadi itu Pak Sofyan marah-marah gara-gara kalian ngga ada di kelas." Ucapnya menggebu.

"Bener kalian duduk santai di depan ruang kaca sambil Wi-fi-an?" Seru seorang gadis di belakang Deya.

"Duduk santai?"

"Sambil Wi-fi-an?"

    Mereka bertiga saling pandang dengan raut wajah bingung juga tak terima.

"Kita tadi disuruh Bu Dewi buat ngangkut modul dari mobil Pak Tino ke ruang guru. Tadi juga kita udah izin sama Pak Sofyan waktu ketemu di depan ruang kaca. Maksudnya apa coba dia bilang gitu?" Omel Ainun tak terima.

"Tuhkan aku bilang juga apa, itu orang tuh aneh. Bermuka dua."

"Udah, husnudzon aja siapa tahu dia lupa kalau kita udah izin. Atau mungkin emang dia ngga suka kalau ada anak yang izin di jam dia, walaupun itu penting." Terang gadis itu.

"Ya kalau ngga suka bilang dong, bukan bikin fitnah kaya gini." Melodi masih mengomel tak terima.

"Eh inget ngga waktu Fanny usul ke Pak Sofyan tentang rolling tempat duduk karena dia pengin duduk di depan? Kemarin temen gue nanya ke gue, di kelas lo ada yang rebutan tempat duduk sampai nangis-nangis ya?" Cerita seorang gadis tinggi di belakang Ainun.

"Terus pas gue tanya, lo tahu darimana? Jawaban dia, dari Pak Sofyan kemarin dia cerita di kelas gue. Parah ngga sih? Padahal kemarin baru aja dia bilang ngga usah ceritain apapun tentang kelas kita ke orang lain. Eh dia sendiri? Pake ditambahin rebutan sambil nangis-nangis segala. Padahal aslinya kan ngga gitu" Lanjutnya sambil menghela nafas kasar.

"Tadi juga dia bilang kelas kita kelas gembel, ngga tanggap, anak-anaknya lemot semua, bobrok, dan bla bla bla. Hellow kelas sebelas kemarin kelas kita peringkat dua loh dari semua kelas. Ya gue tahu bukan peringkat pertama, tapi yang peringkat dua aja dibilang kelas gembel, gimana yang di bawah kita?" Mulut cerewet Desta mulai bersiul.

"Kenapa ya kita dapet walikelas gini amat. Apa kita kualat kali ya? Dulu kita ngga bersyukur waktu Bu Jihan jadi walikelas kita. Padahal Bu Jihan super sabar ngehadapin kita, tapi kitanya malah selalu buat masalah. Sekarang Pak Sofyan yang super tegas dan pedas yang gantiin Bu Jihan" Ainun menunduk.

"Yaudah makanya sekarang kita harus lebih bersyukur. Berpikir positif aja, mungkin Pak Sofyan ingin yang terbaik buat kelas ini, tapi caranya aja yang kurang tepat, terlalu keras." Tutur sang Wakil Ketua Kelas bijak.

"Udah anggap aja kita adalah bantal yang lagi ditonjok sama petinju dan kata-kata yang keluar dari mulutnya itu tinjuan buat kita yang nantinya bakal membuat kita memantul lebih jauh bukan malah terjatuh." Lanjutnya.

"Apa kita bikin petisi Akuntansi 3 tanpa walikelas? Gimana?" Celetuk Melodi tiba-tiba yang membuat semua anak menyorakinya.

¤¤¤¤¤¤

"Jadi gitu mah ceritanya. Masa aku, Ainun, sama Melodi dibilang duduk santai sambil Wi-fi-an di jam pelajaran, kan kesal" Gadis berhijab panjang itu kini tertidur di pangkuanku sambil menatap langit kamarnya.

"Tapi mamah setuju loh sama ucapan wakil ketua kelas kamu, siapa namanya?" Tanyaku.

"Azizah, mah."

"Iya Azizah. Menurut mamah yang dibilang Azizah ada benarnya. Mungkin memang cara mendidik Pak Sofyan seperti itu.  Dan untuk yang dia nuduh kamu, Ainun, sama Melodi itu mungkin cara dia buat mengingatkan kalian kalau dia itu ngga suka ada anak yang izin di jam pelajarannya. Kenapa ngga bilang secara langsung? Mungkin dengan cara menuduh ingatan kalian tentang ngga boleh izin di jam pelajaran Pak Sofyan akan lebih tajam. Karena setiap kalian mau izin pasti kalian ingat kejadian itu, akhirnya kalian ngga jadi izin." Tuturku.

"Menurut mamah jika dia melihat sesuatu yang dia ngga suka, dia akan membuat orang tersebut merasa bersalah yang akhirnya ngga akan melupakan apalagi mengulangi kesalahannya itu."

"Terus mah waktu pertama masuk dia kan absensi kita, nah pas gilirannya Ara masa dia bilang 'nama kamu Mutiara? Kok hitam, mutiara itu kan putih?' Coba mamah bayangin kalau ada di posisi Ara"

"Pak Sofyan juga manusia biasa sayang, yang terkadang tegurannya bisa aja salah. Anggap aja ini untuk latihan, bisa jadi di dunia kerja atau perkuliahan kalian nemuin bos atau dosen yang lebih tegas dan pedas dari Pak Sofyan. Karena kamu udah terbiasa dengan ucapan Pak Sofyan kamu akan lebih mudah menghadapi orang-orang seperti itu nantinya."

"Terus yang harus kita lakuin sekarang apa, mah?"

"Kalian harus tunjukin kalau yang Pak Sofyan bilang tentang kelas kalian itu salah. Kalian dibilang bodoh, ya kalian harus buktiin kalau kalian ngga sebodoh yang dia pikir. Pahamkan maksud mamah?"

Gadisku mengangguk, "iya, mah." Serunya sambil memeluk pinggangku.

Terkadang tujuan seseorang itu baik, namun cara dia untuk menyampaikannya kurang beretik. Bukankah memberi sebuah pelajaran tak selalu harus dengan penghinaan? Banyak orang sukses yang lahir dari cemoohan, itu  adalah mereka yang bermental baja. Lalu, mereka yang lemah akan cacian, yang tak percaya diri, bagaimana? Akan kita biarkan terpenjara dalam hinaan, atau kita rangkul mereka dengan dukungan? Bukankah jika sukses kita diiringi dengan dukungan semangat dari orang sekitar akan membuat kesuksesan kita lebih bermakna, membahagiakan, dan tanpa tekanan. Indah bukan?